Rubrik "Kompas Kita" hadir untuk membuka ruang interaktif antara pembaca Kompas, tokoh, dan pengelola media. Tokoh Pilihan akan hadir tiap Jumat dan Anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja yang Anda ingin ketahui tentang kiprah dan kehidupannya.
Marzuki "Kill The DJ" Mohamad
BANGUN DARI BAWAH ROMBAK DARI ATAS Menikmati ”kemewahan” di sebuah kampung di utara Candi Prambanan, Yogyakarta, Marzuki Mohamad (39) memberi kita pemahaman-pemahaman mendasar soal gerakan yang dilakukannya bersama teman-teman seperjuangan. Menempatkan diri sebagai sekrup dari sebuah mesin, Marzuki yang dikenal sebagai ”Kill The DJ” mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) dan bisa dijumpai di sekitar Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Kelud, Gedung KPK, hingga Pilpres 2014. Setelah Pilpres 2014, Marzuki menarik dukungan dan kembali menjadi ”parlemen jalanan” dengan kritik dan pandangan yang tajam sebagai rakyat. Dengan semboyan ”terus bekerja jangan berharap pada negara”, Marzuki tertawa ketika ditanya kesediaannya menjadi wali kota dan berujar, ”Sepertinya Jogja tidak siap punya wali kota urakan, ha-ha-ha. Masyarakat kita, kan, aneh. Yang penting kelihatan saleh, padahal korupsi, ora popo. Mereka yang urakan tapi membela kepentingan rakyat malah dipermasalahkan.” Menanggapi pertanyaan sejumlah pertanyaan pembaca Kompas, berikut ini jawaban Marzuki:
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Marzuki "Kill The DJ" Mohamad dengan mengisi form di bawah ini. Nantikan jawaban pertanyaan Anda di harian Kompas dan di situs ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Apa motivasi dan tujuan Anda mengangkat para petani dan hasil produknya menjadi sesuatu yang keren untuk saat ini?
Ryna Rismu - Jimbaran
Apa yang saya lakukan di desa tempat saya dilahirkan belum bisa dibanggakan. Baru dua setengah tahun, masih mencari bentuk yang pas agar bisa berjalan seiring dengan kesibukan-kesibukan saya yang lain. Mungkin setelah lebih dari lima tahun akan banyak cerita yang bisa dibagi. Namun, prinsipnya begini, membangun itu dari bawah, kalau mau merombak dari atas. Jika ingin memberantas hama korupsi, kita hajar yang di atas. Jika mau menciptakan generasi antikorupsi, kita didik dari bawah. Kalau membangun dari atas enggak ada fondasinya. Begitu juga sebaliknya, kalau mau merombak dari bawah bangunannya bisa roboh. Logika ini berlaku sama dengan dunia pertanian di Indonesia. Sudah seharusnya tugas negara melindungi dan menyediakan lahan yang cukup untuk petani kita. Jangan ngomong ”kedaulatan pangan” sebelum hal ini terwujud. Di saat bersamaan juga menutup celah mafia pupuk dan komoditas. Butuh pendekatan berbeda sesuai semangat zaman agar pertanian Indonesia maju dan nasib petani lebih baik, tanpa harus meninggalkan semangat dan nilai kebudayaannya. Misal, Sedulur Sikep, petani Jawa tradisional percaya bahwa tanah, air, udara adalah saudara manusia yang harus dijaga dan dihormati, memberi dan menerima. Jauh sebelum tren kata ”organik” dan ”green” muncul, konsep itu sudah dimiliki bangsa ini. Dan pasti kearifan lokal semacam itu juga bisa ditemukan di tradisi lain di Nusantara. Dasarnya, kan, sama-sama animisme. Kita bangsa yang latah, importir kebudayaan yang payah! Hip Hop juga! Ha-ha-ha….
Kondisi Kota Jogja makin parah. Apakah bersedia menjadi wali kota jika dijagokan?
Yustina Neni - Yogyakarta
Ha-ha-ha…. Saya tidak pernah membayangkan menjadi pejabat publik semacam wali kota. Namun, baiklah, untuk menjawab pertanyaan semacam ini, yang lebih penting buat saya pribadi adalah saya bertanya kepada diri sendiri apakah saya siap ”mewakafkan hidup” saya untuk menjadi ”abdi masyarakat”? Jadi, pejabat, kan, tugasnya melayani rakyat? Maka, harus mewakafkan hidupnya. Hidup saya saat ini sangat mewah, bukan berarti kaya, lho. Lingkungan sosial saya yang sangat beragam yang membuat hidup saya sangat mewah: bisa nongkrong sambil ngebir sama teman-teman dekat, ngobrol hal-hal sederhana dengan para petani di desa, konser dengan teman-teman JHF, beramal bersama teman-teman Gugur Gunung, hingga menyusun agenda gerakan dengan teman-teman aktivis. Saya ragu bisa ikhlas meninggalkan ”kemewahan” hidup saya itu. Kebanyakan orang ingin jadi wali kota atau mengejar jabatan untuk mendapatkan kemewahan itu! Dan lagi, sepertinya Jogja tidak siap punya wali kota urakan, ha-ha-ha.
Saya penggemar lagu-lagu rap agraris ciptaan Mas Marzuki. Syairnya sederhana, lugas, tapi penuh kritik dan sindiran buat orang-orang yang lagi ”punya jabatan”. Bagaimana itu bisa?
Hardjito - Malang
Saya memang selalu berusaha menghindari kata-kata sulit dan sok intelek dalam menulis lirik lagu khususnya untuk campaign. Buat saya, kaderisasi dalam bahasa ekspresi populer itu agak membingungkan. Di zaman ini teknik sangat mudah didapatkan di internet. Namun, di zaman informasi yang serba cepat ini, yang hilang adalah kedalaman berpikir sebagai pijakan sikap. Maka, menyebarluaskan semangat dan gagasan lebih penting daripada teknik dan bahasa ekspresi. Sebab, saya percaya bahwa setiap zaman akan melahirkan generasi dengan bahasa ekspresi masing-masing, apalagi ditunjang perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Apa alasan memilih ”Kill The DJ” sebagai nama panggung?
Hasian Sidabutar - Medan
Saya akan copy-paste dari buku saya Java Beat in the Big Apple. Jadi, kalau masih ada yang tanya, pasti belum beli buku itu, ha-ha-ha. Waktu itu, saya menjawab pertanyaan serupa di Universitas Santa Barbara, California. Begini, Kill The DJ itu bukan judul lagu Greenday. Saya sudah menggunakannya sejak 15 tahun silam, tepatnya tahun 1999. Waktu itu, aku masih bekerja sebagai perupa dan musisi elektronika. Namun, tahun 2000 ketika aku berkunjung ke Paris juga ada musisi elektronika menggunakan nama Kill The DJ. Pada zaman itu terkenal sekali istilah-istilah seperti ini ”Last night a DJ saved my live” atau ”DJ is a God”. Aku tidak suka berbagai istilah itu dan tidak menemukan konteks kulturalnya di lingkungan sosialku. Jadi, kalau aku membunuh DJ, aku membunuh tuhan-tuhan mereka itu. Sebuah penjelasan yang jarang aku lakukan di berbagai kesempatan di Indonesia.
Karena kisruh KPK dan Polri, kenegarawanan Jokowi dipertanyakan. Tak sedikit relawan Jokowi menarik diri. Mas Juki juga dicibir orang-orang yang kini kontra Jokowi. Apa tanggapan mas?
Fidel Tan - Medan
Seperti sifat relawan, seharusnya muncul saat dibutuhkan dan hilang begitu tujuan tercapai. Buat saya, sangat menyedihkan jika ada eks relawan Jokowi tidak mampu mengkritik Presiden yang diusungnya. Nah, dalam kasus pelemahan KPK, saya sangat-sangat-sangat kecewa dengan kebijakan Jokowi. Saya seperti tidak melihat kepribadian Jokowi yang dulu. Dia harus kembali becermin di kalbu rakyat agar bisa mendengar untuk memahami Indonesia. Selama memahami Indonesia dan berdiri bersama rakyat, dia tidak perlu takut interpelasi atau impeachment.


Show 1-5...
Nantikan Kompas Kita selanjutnya bersama
Mesty Ariotedjo
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Mesty Ariotedjo dengan mengisi form di bawah ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Pilih tokoh pilihan Anda yang ingin ditampilkan di Kompas Kita ?

BJ Habibie
Bondan Winarno
Slamet Gundono