Rubrik "Kompas Kita" hadir untuk membuka ruang interaktif antara pembaca Kompas, tokoh, dan pengelola media. Tokoh Pilihan akan hadir tiap Jumat dan Anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja yang Anda ingin ketahui tentang kiprah dan kehidupannya.
Endah Laras
Umumnya perempuan berbadan besar mempunyai rasa minder. Tidak demikian dengan Endah Laras (38). Badan besar tak menghalanginya menunjukkan kemampuan berkesenian. Badan besar menjadikan dia mudah dikenali. Memang benar, Endah yang seniman serba bisa (ia bisa menyanyi pop, keroncong, seriosa, langgam Jawa, nembang, menari, dan bermain dalam seni peran) itu dikenal banyak kalangan. Ibunda Elvira Dyah Utari yang tumbuh menjadi remaja ini tak hanya dikenal sebagai seniman di dalam negeri, tetapi ia juga beberapa kali pentas di luar negeri bahkan menjadi guru tari bagi anak-anak yang bersekolah di Singapura. Lahir dari ayah-ibu seniman dan hidup di tengah tradisi berkesenian yang kental membuat Endah paham lalu piawai dengan seni tradisi Jawa seperti menari dan nembang (menyanyikan lagu dalam bahasa Jawa). Namun, langkah perempuan yang sejak kecil menjuarai lomba seni tersebut terkenal seperti sekarang tidak mudah dan berliku. Gelar juara menari dan menyanyi tak serta-merta membawanya menjadi seniman sukses. Justru pertemuan dengan sopir truk yang ia sewa dari Jakarta ke Solo-lah yang memberi berkah. Waktu itu, Endah yang setelah lulus SMA di Jakarta harus pulang ke Solo membawa barang- barangnya dengan naik truk. Ketika ia menyanyi lagu Jawa, sopir itu tertarik dengan suara merdu Endah lalu meminta ia menyanyi di hajatan di rumahnya. Di rumah sopir tersebut, ia bertemu pimpinan orkes keroncong Purnama yang merekrut Endah sebagai penyanyi. Dari kejadian itu, Endah belajar menyanyi keroncong yang sekaligus membuat namanya mulai dikenal lebih luas. Dari waktu ke waktu Endah terus mengembangkan diri dengan mengadakan pentas gabungan dengan sesama seniman dalam dan luar negeri seperti koreografer dari Akiko Kitamura dan Kwartet Music String yang dipentaskan di Chino, Nagano Japan pada akhir tahun 2013 maupun desainer seperti Anne Avantie, sutradara Garin Nugroho, seniman tari Rahayu Supanggah, dan para seniman tradisi lainnya. Seperti banyak seniman lain, Endah yang sibuk manggung di banyak tempat itu memilih tetap tinggal di Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Di tengah kesibukannya, Endah menjawab pertanyaan terpilih pembaca Kompas berikut ini.
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Endah Laras dengan mengisi form di bawah ini. Nantikan jawaban pertanyaan Anda di harian Kompas dan di situs ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Mbak, seberapa mahal dan pentingkah musik keroncong bagi Indonesia. Mohon penjelasannya supaya para remaja dan generasi muda kita sadar dan tidak gengsi mempelajari dan membudayakannya.
Fidel Tan - Medan
Yang membuat mahal dan penting karena keaslian musik keroncong itu sendiri. Selain itu, keroncong juga menjadi bagian dari sejarah Indonesia sejak zaman penjajahan. Jadi dengan musik keroncong kita akan selalu teringat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Langkah apa yang sudah Anda siapkan atau terapkan dalam menghadapi masa tua atau pensiun nanti? Apa pesan Anda untuk pelaku seni generasi sesudah Anda?
Niken Sawitri - Sukoharjo
Saya berharap di masa tua nanti saya tetap berada dalam lingkup kesenian. Kalaupun sudah tidak mampu menjadi pelaku, saya tetap akan menjadi penggerak seni para generasi muda yang akan datang. Pesan saya jangan cepat bosan atau putus asa. Ketekunan butuh kerja keras, tidak ada usaha yang percuma. Suatu saat pasti akan ada gunanya.
Mengapa Anda lebih suka menyebut diri Anda sebagai ”pelaku seni” daripada sebagai penyanyi?
Muhammad Husein Heikal - Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara
Menurut saya, istilah pelaku seni lebih luas dari sekadar penyanyi karena yang telah saya lakukan sampai saat ini tidak melulu hanya menyanyi. Saya juga senang menari, menulis lagu, saya juga senang menjadi komedian dan akting pun juga saya lakoni. Semuanya saya lakukan atas dasar senang. Jadinya ya mengalir saja.
Saya seorang ibu yang penasaran bagaimana membentuk anak semata wayang mbak. Apakah mbak berkeinginan putri mbak kelak mengikuti jejak mbak? Atau membiarkannya tumbuh dan memilih jalannya sendiri?
Nila Lestiyowati - Cilodong, Depok
Sebenarnya saya tidak pernah memaksa anak mengikuti jejak saya menjadi pelaku seni walaupun keinginan itu tetap ada dalam hati kecil. Saya yakin setiap anak memiliki jalan hidup masing-masing dan kita sebagai orangtua sebisa mungkin menjadi pendukung yang baik. Andai kelak anak saya memutuskan untuk tidak menjadi pelaku seni pun, ya paling tidak dalam kehidupannya tetap harus diwarnai dengan kesenian walaupun hanya sebagai penikmat yang baik, itu saja sudah cukup buat saya.
Mengapa Endah Laras senang membawa ukulele dan memilih seni keroncong sebagai seni yang ditekuni? Bagaimana Endah Laras bisa memperkenalkan kesenian Jawa sampai ke luar negeri?
Lusinur Nafiah - -
Sebenarnya ukulele itu hanya kebetulan saja. Itu adalah tantangan dari Mas Garin Nugroho ketika saya ikut serta dalam pementasan Opera Jawa. Namun, setelah pementasan tersebut orang malah jadi sering meminta saya untuk nyanyi dengan ukulele, ya sudah. Akhirnya keterusan sampai sekarang. Lagi pula ukulele cukup mudah dibawa ke mana-mana. Jadi saya, ya, nyaman-nyaman saja. Sebenarnya keroncong merupakan salah satu dari beberapa jenis musik yang saya tekuni. Mengapa keroncong, ya karena keroncong menurut saya sangat Indonesia. Pertama kali saya ke luar negeri karena keterlibatan saya dengan dalang Ki Enthus Susmono dari Tegal. Beliau diundang pentas wayang kulit di Tropen, museum di Belanda. Setelah itu kesempatan pentas ke luar negeri banyak diberikan oleh seniman- seniman hebat Indonesia, seperti Garin Nugroho, Rahayu Supanggah, Goenawan Mohamad, dan Slamet Rahardjo.


Show 1-5...
Nantikan Kompas Kita selanjutnya bersama
Mesty Ariotedjo
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Mesty Ariotedjo dengan mengisi form di bawah ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Pilih tokoh pilihan Anda yang ingin ditampilkan di Kompas Kita ?

BJ Habibie
Bondan Winarno
Slamet Gundono