Rubrik "Kompas Kita" hadir untuk membuka ruang interaktif antara pembaca Kompas, tokoh, dan pengelola media. Tokoh Pilihan akan hadir tiap Jumat dan Anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja yang Anda ingin ketahui tentang kiprah dan kehidupannya.
Wanda Hamidah
Banyak pihak menilai agenda reformasi telah gagal terlaksana. Bukan cuma melulu korupsi semakin merajalela, banyak hak rakyat juga belum terpenuhi. Belum lagi perilaku elite politik yang jauh dari mengundang simpati rakyat. Salah satu pihak yang dituding bertanggung jawab adalah para aktivis 1998. Di antara mereka banyak yang menjadi pejabat, termasuk menjadi anggota Dewan. Nama Wanda Hamidah yang kala itu menjadi mahasiswa Universitas Trisakti cukup dikenal sebagai aktivis pada masa-masa awal reformasi bergulir. Dalam perjalanannya, dia kemudian bergabung dengan Partai Amanat Nasional dan kini menjadi anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta. Wanda berjanji akan meneruskan perjuangan rekan-rekan mahasiswanya yang hilang ataupun gugur di masa Reformasi 1998. "Saya berjanji akan meneruskan perjuangan mereka," ujarnya.
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Wanda Hamidah dengan mengisi form di bawah ini. Nantikan jawaban pertanyaan Anda di harian Kompas dan di situs ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Setelah meninggalkan dunia peran, sekarang menjadi anggota DPR, bagaimana tentang pendapat banyak orang yang katanya artis enggak akan susah jadi anggota DPR karena sama-sama hanya berakting berpura-pura) dan bukan menjadi diri sendiri.
Rudolf Dayu - Manado
Sesungguhnya saya tidak pernah berkecimpung secara total di dunia peran. Hanya 2-3 kali tampil di sinetron ataupun pertunjukan seni peran lainnya. Saya lebih banyak menjadi foto model dan bintang iklan media cetak. Saya percaya, orisinalitas seseorang itu penting dan itulah yang saya lakukan dalam setiap pekerjaan saya
Kalau tidak salah, di akhir tahun 90 Wanda bersama para model remaja wanita membuat album lagu. Apakah masih tertarik untuk menyanyi lagi? Saya masih aktif mengkliping berita tentang Wanda sejak masih aktif di dunia modeling sampai kini sebagai anggota DPRD.
F Regi Weking - Bekasi
Wah, justru itu adalah pengalaman yang sesungguhnya saya ingin masyarakat lupa. Bukannya apa-apa, tapi saya tidak dianugerahi dengan suara yang mumpuni untuk menjadi seorang penyanyi. Saya lebih memilih berkegiatan sosial saja untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Saya ucapkan terima kasih sudah mengumpulkan kliping berita tentang saya, tersanjung sekali rasanya ada yang begitu menaruh perhatian.
Apakah Anda pernah pergi ke pelosok kampung untuk melihat kemiskinan?
Nursani Sani, - -
Saya hampir dua sampai tiga kali dalam seminggu berkunjung di kawasan kumuh Jakarta untuk memberikan bantuan atau sekadar berdialog dengan warga. Untuk di luar Jakarta, saya merasa bersyukur pada tahun 2004 mendapatkan kesempatan mendampingi suami saya, Cyril Raoul Hakim, yang berkampanye legislatif di Maluku Utara. Empat bulan lebih kami sekeluarga tinggal di sana berkeliling ke pelosok-pelosok daerah yang tidak ada listrik, air bersih, sekolah, bahkan puskesmas. Saya tidak memiliki keterpaksaan berada di tempat seperti itu, justru memberikan saya perspektif baru dan mematangkan saya sebagai seorang pribadi yang utuh.
Apa alasan Anda masuk PAN? Banyak saya dengar, untuk pencalonan anggota DPRD, harus ada "mahar". Bagaimana dengan Anda? Berapa rupiah modal yang harus Anda keluarkan untuk memenangi pemilu?(Paling tidak untuk kampanye)
Djati PD - Kelapa Gading, Jakarta
Alasan saya masuk PAN pada akhir tahun 1998 sangatlah sederhana: karena PAN adalah satu-satunya partai yang berdiri dari rahim Reformasi dan didirikan oleh tokoh-tokoh sentralnya (Amien Rais, Goenawan Mohamad, Faisal Basri, dan sebagainya). Ini pula satu-satunya partai yang kala itu platform perjuangannya sejalan dengan tuntutan mahasiswa. Mengenai "mahar", syukur alhamdulillah tidak dikenal di PAN. Para caleg hanya cukup mengeluarkan biaya kampanye pribadi, kebetulan saya termasuk beruntung karena cukup dikenal sehingga biaya yang keluar dari kantong sendiri dan sumbangan masyarakat tidak melebihi Rp 300 juta.
Bagaimana perasaan Anda ketika didemo mahasiswa tentang kinerja dan kapasitas politik Anda sebagai anggota dewan saat ini?
Yustitia - Yogyakarta
Salah satu fokus perjuangan saya sebagai mahasiswa yang kritis di tahun 1998 adalah bagaimana agar Indonesia yang kita cintai ini menganut sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Tentunya saya selalu berusaha konsisten hingga saat ini dengan menerima kenyataan apabila sampai didemo ataupun dikritik oleh siapa pun, termasuk mahasiswa, karena itu semua adalah bagian dari demokrasi yang dulu saya perjuangkan.


Show 1-5...
Nantikan Kompas Kita selanjutnya bersama
Mesty Ariotedjo
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Mesty Ariotedjo dengan mengisi form di bawah ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Pilih tokoh pilihan Anda yang ingin ditampilkan di Kompas Kita ?

BJ Habibie
Bondan Winarno
Slamet Gundono