Rubrik "Kompas Kita" hadir untuk membuka ruang interaktif antara pembaca Kompas, tokoh, dan pengelola media. Tokoh Pilihan akan hadir tiap Jumat dan Anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja yang Anda ingin ketahui tentang kiprah dan kehidupannya.
Riri Riza
"Film Indonesia Didikte Agar Apolitis", Sutradara dan produser film Riri Riza yang bernama lengkap Muhammad Rivai Riza tampil dalam edisi ketiga Tokoh Pilihan dalam Rubrik Kompas Kita. Sutradara kelahiran Makassar, Oktober 1970, menjawab pertanyaan pembaca Kompas melalui email. Di tengah kesibukannya melakukan pengambilan gambar "Sang Pemimpi" di Belitung, Riri menjawab dua belas pertanyaan pembaca Kompas dan jawabannya bisa Anda baca di Kompas Kita yang kini Anda pegang. Sedang jawaban lengkap Riri atas pertanyaan pembaca lainnya, bisa Anda akses di http://kita.kompas.com. Pertanyaan untuk Riri datang dari berbagai kota yang tersebar di Tanah Air, termasuk dari pembaca Kompas Okti Li—Nei yang tinggal di Taipei, Taiwan. Bukan hanya pertanyaan yang muncul akan tetapi tawaran untuk bekerjasama pun datang melalui Rubrik Kompas Kita, sebuah rubrik yang bercirikan interaktivitas. Salah satu tawaran kerjasama datang dari Hary Ananda, pembaca Kompas di Jakarta. "Saya mempunya cerita/ide tentang perjuangan sebuah keluarga untuk mencapai cita-cita, bisa atau tidak Mas Riri, menuangkannya dalam sebuah film," tulis Hary yang ditanggapi Riri, "Bisa saja, saat ini saya selalu mencari cerita. Semoga cerita Anda segera dapat dipublikasikan, hingga saya berkesempatan untuk membacanya." Riri berbicara soal perfilman Indonesia, karya-kayanya, industri perfilman, serta soal Festival Indonesia (FFI). Riri telah melahirkan sejumlah film y antara lain, Petualangan Sherina (2000), Ada Apa Dengan Cinta (2002), Eliana, Eliana (2002), Gie (2005) dan Untuk Rena (2005). Hingga edisinya yang ketiga, Kompas Kita telah menerima usulan sejumlah tokoh – pemusik, penyanyi, olahragawan, politisi, maupun menteri --- untuk dihadirkan di Kompas Kita. Kami sedang berupaya menghubungi para tokoh tersebut untuk hadir berinteraksi dengan pembaca Kompas. Kami juga tetap menunggu usulan tokoh dari para pembaca melalui email kompaskita@kompas.com.
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Riri Riza dengan mengisi form di bawah ini. Nantikan jawaban pertanyaan Anda di harian Kompas dan di situs ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Tentang Karya: Riri saya punya pertanyaan, apakah Anda tertarik untuk membuat film G30S PKI versi baru yang netral dari segala bentuk intervensi? Bukan film G30S PKI versi pemerintah (orde baru) yg pernah kita saksikan berapa tahun yang lalu.
Sebastian Sarwidodo - Serpong, Tangerang.
Saya tertarik. Saya pernah menyentuh persoalan sekitar sejarah peristiwa 1965 dalam film GIE. Dalam catatan hariannya GIE mencatat situasi sosial politik masa itu, dan menyumbangkan pemikiran dan sudut pandang yang sangat personal. Saya mulai membuat film di akhir era Orde Baru, dan menikmati kebebasan pasca reformasi. Reformasi telah membuka pintu bagi berbagai kemungkinan dalam memandang sejarah, termasuk persoalan 1965. Karena saya pembuat film, saya harus menemukan sebuah kisah seputar G30S yang tepat untuk sinema, dan menarik untuk diceritakan dalam format film.
Film "GIE" telah memberi inspirasi bagiku dalam perjuangan. Bagaimana kalau Riri mengupayakan film perjuangan lainnya seperti perjuangan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan tokoh pendiri bangsa lainnya. Agar generasi muda mengerti arti sebuah perjuangan dan tertanam semangat nasionalisme. Kisah hidup mereka yang berada di pengasingan sangat menarik bagi saya, sangat berkarakter sinematik. Suatu hari saya akan membuat film berkisar pada hidup pengasingan salah satu dari ketiga ini.
Jhon Rivel Purba - Padang Bulan, Medan Sumut
Terima kasih untuk apresiasi ini. Saya sangat tertarik dengan cerita tokoh tokoh ini, dan saya terus mengumpulkan bahan dan informasi. Mereka mereka adalah pendiri bangsa, orang orang yang sangat menginspirasi saya, dan pernah menjalani kehidupan pembuangan. Saya tertarik dengan kisah mereka yang harus hidup dalam pengasingan. Kalau saya suatu hari membuat film tentang tokoh yang Anda sebutkan ini, saya akan berfokus pada masa pengasingan mereka.
Mengapa saat ini belum ada film Indonesia yang menampilkan "kebobrokan" bangsa ini, contohnya korupsi yang terjadi baik di badan swasta maupun pemerintah? Hal ini bagus untuk rakyat Indonesia dapat berkaca diri.
Reinaldo Septimaselli - Tangerang
Menurut saya film Indonesia masih dalam masa mencari jati dirinya kembali (setelah sempat terpuruk). Ya kalau dikatakan bangsa kita masih memiliki "kebobrokan", film Indonesia selain yang bagus banyak yang "bobrok" ya. Tapi jangan terlalu khawatir, di semua bangsa, sejarah film selalu diwarnai oleh film komersial yang harus memenuhi tuntutan pasar hiburan, namun setiap bangsa juga memiliki pembuat film yang kritis dalam melihat persoalan zamannya. Termasuk kebobrokannya. Bersabarlah sebentar, semoga pendidikan akan menghasilkan pembuat film yang lebih kritis dimasa depan.
Selain Gie, adakah rencana membuat film tentang sejarah Indonesia? Kalau ada, sejarah tentang apa? Karena sayang sekali, penonton Indonesia sangat miskin pengetahuan sejarahnya.
Yuniasari Shinta Dewi - Kebon Jeruk, JakBar
Saat membuat GIE saya sedikit belajar tentang betapa beratnya tantangan membuat film sejarah. Dalam film sejarah selain butuh riset cerita, kita butuh dana begitu besar dalam menciptakan visualisasi masa lalu. Hampir semua produksi film di Indonesia memiliki dana terbatas karena pasar atau distribusi film yang terbatas. Walaupun film GIE adalah salah satu film Indonesia termahal waktu itu kami tetap harus bekerja ekstra keras untuk menyelesaikannya. Kalau saya bikin film tentang sejarah Proklamasi, atau kisah Sultan Hasanuddin misalnya, mungkin lebih mudah. Tapi kalau saya tertarik dengan tokoh Tan Malaka atau Nyoto? Siapa yang ingin membiayai?
Mas Riri, pernah terpikir gak untuk membuat film epik Indonesia, misalnya semacam tentang Majapahit, Patih Gajah Mada, atau Roro Jonggrang ..? Saya pikir itu akan menjadi film menarik, dan akan lebih memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda?
Rania - Jambi
Tahun lalu saya membuat sebuah film epik dalam skala kecil. Sebuah film sepanjang 40 menit berjudul Drupadi. Diambil dari fragmen Drupadi dalam kisah Mahabharata. Skenarionya ditulis oleh penulis/wartawan Leila Chudori. Film itu diputar di festival film JIFFEST tahun lalu. Dan juga festival film International Hong Kong. Sempat ada pembicaraan untuk melanjutkan Drupadi dalam durasi yang lebih panjang dan skala yang lebih besar. Tapi masih butuh waktu.


Show 1-5...
Nantikan Kompas Kita selanjutnya bersama
Mesty Ariotedjo
Segera kirim pertanyaan Anda tentang apa saja kepada Mesty Ariotedjo dengan mengisi form di bawah ini.
Nama
:
Email
:
Domisili
:
Pertanyaan
:

Pilih tokoh pilihan Anda yang ingin ditampilkan di Kompas Kita ?

BJ Habibie
Bondan Winarno
Slamet Gundono